Friday, November 25, 2011

Hidayah Itu Mahal Wahai Saudaraku

Bismillah,


Pernahkah terpikirkan bahwa kita tengah berada dalam anugerah yang tiada ternilai dari Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi, sementara begitu banyak orang yang dihalangi untuk memperolehnya?
Kita bisa tahu ajaran yang benar dari agama Islam ini. Tahu ini haq, itu batil… Ini tauhid, itu syirik…. Ini sunnah, itu bid’ah… Lalu kita dimudahkan untuk mengikuti yang haq dan meninggalkan yang batil.

Sementara, banyak orang tidak mengerti mana yang benar dan mana yang sesat, atau ada yang tahu tapi tidak dimudahkan baginya untuk mengamalkan al-haq, malah ia gampang berbuat kebatilan.

Kita dapat berjalan mantap di bawah cahaya yang terang-benderang, sementara banyak orang yang tertatih meraba dalam kegelapan.



Kita tahu apa tujuan hidup kita dan kemana kita kan menuju.
Sementara, ada orang-orang yang tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka hidup. Bahkan kebanyakan mereka menganggap mereka hidup hanya untuk dunia, sekadar makan, minum, dan bersenang-senang di dalamnya.

Apa namanya semua yang kita miliki ini, wahai saudaraku, kalau bukan anugerah terbesar, nikmat yang tiada ternilai? Inilah hidayah dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada jalan-Nya yang lurus.
Dalam Tanzil-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاللهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)

Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu menerangkan dalam tafsirnya bahwa hidayah di sini maknanya adalah petunjuk dan taufik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan hidayah ini kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala maka mesti mengikuti hikmah-Nya. Siapa yang beroleh hidayah maka memang ia pantas mendapatkannya. (Tafsir Al-Qur’anil Karim, 3/31)



Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ketika menjelaskan ayat:
وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

beliau berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meletakkan hidayah di dalam hati kecuali kepada orang yang pantas mendapatkannya.
Adapun orang yang tidak pantas memperolehnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkannya beroleh hidayah tersebut.
Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Memiliki hikmah, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, tidak memberikan hidayah hati kepada setiap orang, namun hanya diberikannya kepada orang yang diketahui-Nya berhak mendapatkannya dan dia memang pantas.
Sementara orang yang Dia ketahui tidak pantas beroleh hidayah dan tidak cocok, maka diharamkan dari hidayah tersebut.”

Asy-Syaikh yang mulia melanjutkan, “Di antara sebab terhalangnya seseorang dari beroleh hidayah adalah fanatik terhadap kebatilan dan semangat kesukuan, partai, golongan, dan semisalnya. Semua ini menjadi sebab seseorang tidak mendapatkan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Siapa yang kebenaran telah jelas baginya namun tidak menerimanya, ia akan dihukum dengan terhalang dari hidayah. Ia dihukum dengan penyimpangan dan kesesatan, dan setelah itu ia tidak dapat menerima al-haq lagi. Maka di sini ada hasungan kepada orang yang telah sampai al-haq kepadanya untuk bersegera menerimanya. Jangan sampai ia menundanya atau mau pikir-pikir dahulu, karena kalau ia menundanya maka ia memang pantas diharamkan/dihalangi dari hidayah tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati-hati mereka.” (Ash-Shaf: 5)

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada awal kalinya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al-An’am: 110)
[I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, 1/357]



Perlu engkau ketahui, hidayah itu ada dua macam:

1. Hidayah yang bisa diberikan oleh makhluk, baik dari kalangan para nabi dan rasul, para da’i atau selain mereka. Ini dinamakan hidayah irsyad (bimbingan), dakwah dan bayan (keterangan).

Hidayah inilah yang disebutkan dalam ayat:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) benar-benar memberi hidayah/petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)

2. Hidayah yang hanya bisa diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak selain-Nya. Ini dinamakan hidayah taufik.

Hidayah inilah yang ditiadakan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih selain beliau, dalam ayat:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) tidak dapat memberi hidayah/petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)


Yang namanya manusia, baik ia da’i atau selainnya, hanya dapat membuka jalan di hadapan sesamanya. Ia memberikan penerangan dan bimbingan kepada mereka, mengajari mereka mana yang benar, mana yang salah.
Adapun memasukkan orang lain ke dalam hidayah dan memasukkan iman ke dalam hati, maka tak ada seorang pun yang kuasa melakukannya, karena ini hak Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. (Al-Qaulul Mufid Syarhu Kitabit Tauhid, Ibnu Utsaimin, sebagaimana dinukil dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il beliau, 9/340-341)



Saudaraku, bersyukurlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika engkau dapati dirimu termasuk orang yang dipilih-Nya untuk mendapatkan dua hidayah yang tersebut di atas. Karena berapa banyak orang yang telah sampai kepadanya hidayah irsyad, telah sampai padanya dakwah, telah sampai padanya al-haq, namun ia tidak dapat mengikutinya karena terhalang dari hidayah taufik.

Sementara dirimu, ketika tahu al-haq dari al-batil, segera engkau pegang erat yang haq tersebut dan engkau empaskan kebatilan sejauh mungkin. Berarti hidayah taufik dari Rabbul Izzah menyertaimu. Tinggal sekarang, hidayah itu harus engkau jaga, karena ia sangat bernilai dan sangat penting bagi kehidupan kita. Ia harus menyertai kita bila ingin selamat di dunia, terlebih di akhirat. Bagaimana tidak?

Sementara kita di setiap rakaat dalam shalat diperintah untuk memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hidayah kepada jalan yang lurus.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah (berilah hidayah) kami kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)

Bila timbul pertanyaan, bagaimana seorang mukmin meminta hidayah di setiap waktu shalatnya dan di luar shalatnya, sementara mukmin berarti ia telah beroleh hidayah? Bukankah dengan begitu berarti ia telah meminta apa yang sudah ada pada dirinya?

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu memberikan jawabannya: Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing hamba-hamba-Nya untuk meminta hidayah, karena setiap insan membutuhkannya siang dan malam.

Seorang hamba butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setiap saat untuk mengokohkannya di atas hidayah, agar hidayah itu bertambah dan terus-menerus dimilikinya. Karena seorang hamba tidak dapat memberikan kemanfaatan dan tidak dapat menolak kemudaratan dari dirinya, kecuali apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki.

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun membimbing si hamba agar di setiap waktu memohon kepada-Nya pertolongan, kekokohan, dan taufik. Orang yang bahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memohon hidayah, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan jaminan untuk mengabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Nya di sepanjang malam dan di pengujung siang. Terlebih lagi bila si hamba dalam kondisi terjepit dan sangat membutuhkan bantuan-Nya.

Ini sebanding dengan firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ءَامِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…” (An-Nisa’: 136)

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang yang telah beriman agar tetap beriman. Ini bukanlah perintah untuk melakukan sesuatu yang belum ada, karena yang dimaukan dengan perintah beriman di sini adalah hasungan agar tetap tsabat (kokoh), terus-menerus dan tidak berhenti melakukan amalan-amalan yang dapat membantu seseorang agar terus di atas keimanan.

Wallahu a’lam.

(Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/38)

Berbahagialah dengan hidayah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadamu dan jangan biarkan hidayah itu berlalu darimu. Mintalah selalu kekokohan dan keistiqamahan di atas iman kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa.

Teruslah mempelajari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hadirilah selalu majelis ilmu. Dekatlah dengan ulama, cintai mereka karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bergaullah dengan orang-orang shalih dan jauhi orang-orang jahat yang dapat merancukan pemahaman agamamu serta membuatmu terpikat dengan dunia. Semua ini sepantasnya engkau lakukan dalam upaya menjaga hidayah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepadamu.

Satu lagi yang penting, jangan engkau jual agamamu karena menginginkan dunia, karena ingin harta, tahta, dan karena cinta kepada lawan jenis. Sekali-kali janganlah engkau kembali ke belakang. Kembali kepada masa lalu yang suram karena jauh dari hidayah dan bimbingan agama.

Ingatlah:

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)


Kata Al-Imam Al-’Allamah Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi rahimahullahu, “Kebenaran dan kesesatan itu tidak ada perantara antara keduanya. Maka, siapa yang luput dari kebenaran mesti ia jatuh dalam kesesatan.” (Mahasinut Ta’wil, 6/24)
Lalu apa persangkaanmu dengan orang yang tahu kebenaran dari kebatilan, semula ia berjalan di atas kebenaran tersebut, berada di dalam hidayah, namun kemudian ia futur (patah semangat, tidak menetapi kebenaran lagi, red.) dan lisan halnya mengatakan ‘selamat tinggal kebenaran’? Wallahul Musta’an. Sungguh setan telah berhasil menipu dan mengempaskannya ke jurang yang sangat dalam.

Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, di atas ketaatan kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin ….

Wallahu a’lam bish-shawab.



Sumber:
dikutip dari tulisan Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah
http://www.asysyariah.com/

Thursday, November 24, 2011

Aliran Sesat, Kenali dan Hindari

Sungguh Allah Ta’ala Maha Bijaksana, telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ada hitam, juga ada putih. Ada manis ada juga pahit. Ada terang dan ada gelap. Ada kebaikan, maka ada pula keburukan. Nah, maka jika ada jalan kebenaran, di sana pun ada jalan kesesatan.

Entah mengapa sebagian orang alergi dengan kata ‘sesat’ dan tidak mau membahasnya. Seakan-akan bagi mereka segala sesuatu itu benar dan tidak ada yang salah. Padahal Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri seringkali mengisyaratkan adanya kesesatan dalam beragama dan senantiasa memperingatkan ummat agar menjauhinya.

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, ia berkata:

“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah membuat garis dengan tangannya, lalu bersabda: ‘Ini jalan yang lurus’. Kemudian, beliau membuat beberapa garis di kanan-kirinya, lalu bersabda: ‘Ini semua adalah jalan-jalan yang sesat, pada masing-masing jalan ini ada setan-setan yang mengajak untuk masuk ke sana’ ” (HR. Ahmad, An Nasa’i dan Ad Darimi. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Lalu apa pentingnya membahas tentang kesesatan dalam beragama?

Perhatikan sebuah syair arab nan indah, yang dapat menjawab pertanyaan ini:

“Aku mengenal keburukan bukan untuk berbuat keburukan. Namun aku mengenalnya agar bisa menjauhinya. Karena orang yang tidak mengenal keburukan, biasanya akan terjerumus ke dalamnya”.

Jalan Kesesatan Itu Banyak

Tentu pembaca telah mengetahui bahwa sesuatu dikatakan sesat bila ia tidak berjalan pada jalan yang benar. Sebagaimana seorang musafir dari kota A ingin menuju kota B namun karena salah meniti jalan ia malah sampai ke kota C. Maka si musafir tersebut kita katakan ia telah tersesat. Demikian juga dalam beragama, seseorang dikatakan sesat dalam beragama jika ia tidak menempuh jalan atau metode beragama yang benar sesuai Al Qur’an, hadits dan pemahaman para sahabat. Kesesatan dalam beragama ini memiliki probabilitas yang banyak. Dengan kata lain, bentuk, cara dan pola kesesatan dalam beragama sangat beragam dan sangat mungkin akan terus bertambah dari zaman ke zaman.

Sebagaimana hadits yang telah lewat bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengisyaratkan jalan kebenaran dengan sebuah garis dan mengisyaratkan kesesatan dengan garis yang banyak. Seolah-olah beliau ingin menyampaikan bahwa jalan kebenaran itu hanya 1 dan jalan kesesatan itu banyak. Al Qur’anul Karim pun menegaskan hal ini. Ketika mengabarkan tentang jalan kebenaran,

Allah Ta’ala menggunakan lafadz mufrad (tunggal), misalnya firman Allah Ta’ala (yang artinya),

“Tunjukkanlah kami shirath (jalan) yang lurus”
(QS.Al Fatihah: 6).

Di sini shirathun dalam bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamaknya adalah shuruthun. Sebaliknya, ketika menyebutkan tentang jalan kesesatan Allah Ta’ala selalu menggunakan lafadz jamak. Misalnya firman Allah Ta’ala (yang artinya),

“Dan janganlah kamu mengikuti subul (jalan-jalan) mereka (karena jalan-jalan itu) akan memecah belah kamu dari jalan Allah.”
(QS.Al An’am: 153).

Subulun adalah bentuk jamak dari sabiilun. Jadi, jalan kesesatan itu banyak. Sedangkan jalan kebenaran hanyalah satu.

Ciri-ciri Aliran Sesat

Penting sekali bagi orang yang hendak menghindari aliran sesat untuk mengetahui ciri-cirinya. Sebagaimana telah kami sampaikan bahwa kesesatan sangat beragam dan bermacam jumlahnya, maka tidak mungkin dalam kesempatan yang terbatas ini, kami menyampaikan semua ciri dari kesesatan yang terjadi di masa ini. Namun akan kami paparkan beberapa ciri-ciri dari jalan kesesatan atau aliran sesat yang ada di tanah air kita. Alhamdulillah, sebagian ciri dari aliran sesat yang ada di tanah air kita ini telah dikemukakan oleh Majelis Ulama Indonesia yang mengeluarkan ma’lumat tentang 10 ciri aliran sesat, yaitu:

  1. Mengingkari rukun iman (Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci, Rasul, Hari Akhir, Qadha dan Qadar) dan mengingkari rukun Islam (Mengucapkan 2 kalimat syahadah, sholat wajib 5 waktu, puasa, zakat, dan Haji)
  2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`I (Al-Quran dan As-Sunah);
  3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al Qur’an
  4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al Qur’an
  5. Melakukan penafsiran Al Quran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir
  6. Mengingkari kedudukan hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai sumber ajaran Islam
  7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul
  8. Mengingkari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul terakhir
  9. Merubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syari’ah, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardlu tidak 5 waktu
  10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan seorang muslim hanya karena bukan kelompoknya.
(Lihat website MUI http://www.mui.or.id/mui_in/hikmah.php?id=53)

Sepuluh poin yang dikemukakan oleh MUI ini bukan tanpa dasar, bahkan dilandasi oleh banyak dalil dari Al Qur’an dan hadits serta bersesuaian dengan prinsip-prinsip Ahlussunnah Wal Jama’ah. Namun tidak memungkinkan bagi penulis untuk membahasnya secara rinci di sini. Selain itu, penulis juga merasa perlu untuk membahas ciri-ciri lain dari aliran-aliran sesat yang berkembang di Indonesia, di antaranya yaitu:

1. Memiliki amalan-amalan khusus yang tidak berdasar
Sebagian aliran sesat memiliki amalan-amalan tertentu yang nyeleneh. Misalnya, ada aliran sesat yang memerintahkan pengikutnya bersetubuh di depan pemimpinnya, atau aliran yang membolehkan shalat tanpa berwudhu, atau aliran yang mengharuskan pengikutnya pergi mengembara (khuruj) dalam jangka waktu tertentu. Dikatakan nyeleneh karena tidak ada dasarnya dari Al Qur’an, hadits atau contoh dari para sahabat. Padahal Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melarang keras berbuat sesuatu dalam agama kecuali ada landasannya dari dalil.

Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

2. Menjanjikan penebusan dosa dengan amalan tertentu tanpa dalil
Semua dosa terhapus dengan menyumbang infaq sebesar sekian juta kepada imam, atau semua dosa hangus jika ikut ‘hijrah’, atau semua dosa sirna jika berhasil mengajak sekian orang menjadi pengikut. Itulah yang dijanjikan sebagian aliran sesat. Padahal tentunya kita semua sepakat masalah pengampunan dosa adalah kuasa Allah Ta’ala. Jadi, perkara yang dapat menghapus dosa tentunya harus sesuai dengan yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala melalui Al Qur’an atau melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam. Semisal puasa Asyura’,

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“Puasa ’Asyura’ akan menghapus dosa setahun yang lalu.”
(HR. Muslim no. 2804).

Juga amal-amal kebaikan, dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya),

“Sesungguhnya amal-amal kebaikan menghapuskan amal-amal keburukan”
(Q.S. Huud: 114).

Namun kepastian diampuni dan besarnya ampunan berpulang pada kehendak Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya (yang artinya),

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, namun Allah mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Ia kehendaki”
(Q.S. An Nisa: 48)

3. Mengajak kepada semangat kekelompokkan (hizbiyyah)
Sungguh sayang sebagian ummat Islam di masa ini gemar mengajak orang untuk berkelompok-kelompok dalam agama. Kelompok-kelompok tersebut pun dijadikan tolak ukur loyal dan benci (wala wal baro’). Lebih parah lagi jika ditambahi dengan taqlid buta dengan kelompoknya. Sehingga ia mati-matian berpegang teguh pada aturan-aturan kelompok, serta membela tokoh-tokoh kelompok meskipun bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Jika demikian, mereka telah menyimpang dari jalan yang benar. Karena Allah Ta’ala memerintahkan ummat Islam untuk bersatu di atas kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
“Berpegang teguhlah kalian pada tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah”
(QS. Al Imran: 103)

4. Mengajak untuk memberontak kepada penguasa muslim
Imam Ahmad bin Hambal atau dikenal dengan Imam Hambali berkata, “(Pokok keyakinan Ahlus Sunnah menurut kami, salah satunya adalah) tidak halalnya memerangi penguasa muslim yang sah. Dan tidak halal bagi seorang pun untuk memberontak kepadanya. Orang yang memberontak dan memeranginya maka ia adalah ahli bid’ah yang telah keluar dari jalan kebenaran.” (Lihat Ushul As Sunnah).

Islam mengajarkan ummatnya agar patuh kepada penguasa, presiden, raja, perdana menteri atau sejenisnya dan tidak memberontak, meskipun ia adalah penguasa yang zhalim. Selama ia seorang muslim yang mengerjakan shalat. Jika ia seorang yang zhalim, maka kewajiban rakyat adalah memberi nasehat dengan cara yang baik, bukan memberontak dan tetap taat kepadanya pada hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariat.

Suatu ketika seorang sahabat, yaitu Salamah bin Yazid Al Ju’fiy bertanya kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,

“Bagaimana pendapat engkau jika penguasa yang memerintah kami menuntut haknya namun tidak menunaikan hak kami, apa yang engkau perintahkan kepada kami? Lalu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berpaling darinya, kemudian Salamah bertanya lagi kedua kali atau ketiga kalinya. Lalu Al Asy’ats bin Qais menariknya dan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berkata: Patuhi dan taatilah ia, karena mereka akan menanggung tanggung jawabnya dan kalian menanggung tanggung jawab kalian.”
(HR. Muslim).

Dalam hadits lainnya, dari Hudzaifah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.”
(HR. Muslim)

Maka aliran-aliran yang memberontak pada pemerintah yang sah dengan mengadakan demo, gerakan bawah tanah, menyusun pemberontakan, mencaci-maki pemerintah, ini semua telah melanggar wasiat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam di atas.

Tips Menghindari Aliran Sesat

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua hal, kalian tidak akan sesat jika berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah (Hadits).”
(HR. Al Hakim. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dari hadits ini jelaslah bahwa cara agar terhindar dari kesesatan adalah berpegang teguh terhadap Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Yaitu dengan mempelajarinya, lalu mengamalkannya.

Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Tidaklah aku biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Pada hadits tersebut terdapat isyarat pentingnya mempelajari ilmu agama, yaitu Al Qur’an dan Hadits. Karena pada hakekatnya, orang yang terjerumus dalam kesesatan adalah orang yang tidak paham dan tidak mengerti ilmu agama dengan baik dan benar. Sebagaimana Allah Ta’ala mensifati orang-orang musyrikin yang sesat sebagai orang-orang yang tidak paham

Firman Allah (yang artinya) :

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar dan memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu”

(QS.Al Furqan: 44)

Karena ilmu agama akan menjaga seseorang dari kemaksiatan dan kesesatan. Semakin tinggi ilmunya, semakin tebal perisainya terhadap kemaksiatan dan kesesatan. Sebagaimana perkataan para ulama kita terdahulu ketika membandingkan ilmu dan harta: “Ilmu akan menjaga pemiliknya di dunia dan di akhirat. Sementara harta tidak dapat menjagamu. Bahkan dirimulah yang menjaga harta-hartamu di dalam kotak dan lemari”.

(Dinukil dari Kayfa Tatahammas fi Thalabil ‘Ilmi Asy Syar’i, Abul Qa’qa Alu Abdillah)

Secara ringkas, ada beberapa tips yang dapat dilakukan agar seseorang terhindar dari pengaruh aliran sesat, antara lain:

Mempelajari ilmu agama. Selain karena hukumnya wajib, dengan mempelajari agama seseorang akan mampu mengetahui ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Islam namun disamarkan seolah merupakan ajaran Islam. Hadirilah majelis-majelis ta’lim yang dibimbing oleh ustadz yang terpercaya. Belilah buku, majalah, VCD atau MP3 yang berisi kajian Islam ilmiah yang membahas Al Qur’an dan hadits di dalamnya. Namun berhati-hatilah terhadap majelis-majelis ta’lim, buku, majalah atau VCD yang di dalamnya jarang atau bahkan tidak membahas Al Qur’an dan Hadits, walaupun isinya kelihatan baik
Kenali dan pahami ciri-ciri aliran sesat

Sering bergaul dengan ahlul ‘ilmi, yaitu orang-orang yang memiliki kapasitas ilmu agama yang baik, atau orang-orang yang semangat menuntut ilmu agama
Jadilah insan yang ilmiah, yang senantiasa melakukan sesuatu atas dasar yang kokoh
Taruhlah rasa curiga bila menemukan sekelompok orang yang berdakwah Islam namun dengan cara sembunyi-sembunyi dan takut diketahui orang banyak
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ulama atau ustadz yang terpercaya ketika menemukan sebuah keganjilan dalam praktek beragama
Berdoa memohon pertolongan Allah agar dihindarkan dari kesesatan dan dimantapkan dalam kebenaran. Sebagaimana dicontohkan pula oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,

beliau berdoa:

Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘alaa diinik .

Artinya: “Ya Allah, Dzat Yang Membolak-balikan Hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu”. (HR. Muslim)

Terakhir, penulis menasehati diri sendiri dan kaum muslimin sekalian agar membudayakan sikap saling menasehati dalam kebaikan. Karena

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“Agama adalah nasehat”

(HR.Bukhari dan Muslim).

Maka tulisan ini adalah bentuk nasehat di balik sebuah harapan besar agar kaum muslimin sekalian terhindar dari jalan-jalan kesesatan dan bersatu di jalan kebenaran. Sehingga jika pembaca menemukan ciri-ciri aliran sesat sebagaimana telah disebutkan, kewajiban pertama adalah menasehati. Bukan menyesat-nyesatkan, mencaci-maki, melakukan aksi anarkis apalagi memvonis kafir. Sebab, terjerumus dalam jalan kesesatan belum tentu kafir. Wabillahittaufiq.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan nikmat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat.
[Yulian Purnama]

At Tauhid edisi V/11

Wednesday, November 23, 2011

Jalan Kebenaran Hanya Satu dan Tidak Berbilang



Islam adalah agama universal yang mencakup seluruh ajaran kebaikan. Mulai dari keyakinan, ucapan maupun perbuatan diterangkan secara lengkap dalam Islam. Keterangannya baik secara global atau rinci terpampang dengan jelas dan gamblang. Itulah jalan-jalan keselamatan yang bisa ditempuh oleh para pemeluk agama ini. Jalan-jalan yang bisa menghantarkan pelintasnya ke jannah Allah Subhanahu wata’ala dan menyelamatkannya dari adzab neraka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:


قَدْ جآءَكُمْ مِنَ اللهِ نُوْرٌ وَكِتاَبٌ مُبِيْنٌ. يَهْدِي بِهِ اللهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلاَمِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُماَتِ إِلىَ النُّوْرِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيْهِمْ إِلىَ صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ


“Sungguh telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan dan Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dengan seizin-Nya serta menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma`idah: 15-16)


Jalan keselamatan boleh berbilang namun kebenaran tetap hanya satu. Karena setiap jalan keselamatan adalah bagian dari kebenaran yang satu. Sehingga sebuah jalan tidak dihukumi sebagai jalan keselamatan kecuali bila nilai kebenaran menjadi muatannya. Jika terjadi perselisihan dan pertikaian mengenai sebuah jalan keselamatan maka kebenaran itu tetap berjumlah satu. Kebenaran berada pada salah satu pendapat yang dipegang oleh salah satu pihak. Tentunya tolak ukur kebenaran itu adalah Al Qur`an dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:


الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ


“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147)


Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman:


وَمَنْ يٌشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ ماَ تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ ماَ تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَساَءَتْ مَصِيْراً


“Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (shahabat Radhiallahu’anhum), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa`: 115)


Lalu Allah Subhanahu wata’ala berfirman:


فَماَذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ


“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)


Al-Imam Al-Qurthubi Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Ayat ini menetapkan bahwa tidak ada kedudukan ketiga antara al-haq dan al-bathil dalam permasalahan mentauhidkan Allah Ta’ala. Maka demikian pula perkaranya dalam permasalahan-permasalahan yang setara. Yaitu dalam permasalahan-permasalahan ushul (prinsip), kebenaran berada pada salah satu pihak.


Barangkali ada yang mengatakan: “Sesungguhnya dzahir ayat ini menunjukkan bahwa yang selain (mentauhidkan) Allah adalah kesesatan. Karena permulaan ayat berbunyi:


فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقٌّ فَماَذاَ بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ


“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabb kalian yang sebenarnya; sehingga tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)


Lalu kenapa memperluas pendalilan ini (yakni menggunakan ayat ini untuk mengingkari bentuk kesesatan selain kesyirikan -ed)?”
Jawabannya: Sesungguhnya para pendahulu kita yang baik telah berdalil dengan keumuman ayat ini terhadap segala kebatilan. Oleh karena itu Al-Imam Malik Rahimahullahu Ta’ala berdalil dengannya dalam mengharamkan permainan catur sebagaimana pada riwayat Asyhab. Bentuk (pendalilan) itu sebagai berikut: bahwa kekafiran adalah sesuatu yang menutupi al-haq. Maka semua yang selain kebenaran berjalan di atas jalur ini.” (Tafsir Al-Qurthubi, 8/336)


Dalam setiap pertikaian dan perselisihan, kebenaran hanya satu sedangkan yang selainnya adalah keliru. Bahkan tak jarang mengandung kebatilan dan kesesatan. Inilah sebab Allah Subhanahu wata’ala melarang setiap perselisihan dan pertikaian. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullahu Ta’ala pernah menerangkan: “Ayat-ayat yang melarang setiap perselisihan dalam agama mengandung celaan terhadapnya. Seluruhnya mempersaksikan dengan nyata bahwa al-haq di sisi Allah Subhanahu wata’ala hanya satu, sedangkan yang selainnya merupakan kesalahan. Kalau seandainya semua pendapat itu adalah benar, niscaya Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya tidak akan melarang dari kebenaran dan tidak pula akan mencelanya. Sungguh Allah Subhanahu wata’ala telah mengabarkan bahwa perselisihan bukan dari sisi-Nya. Yang bukan dari sisi Allah Subhanahu wata’ala tidak dianggap sebagai kebenaran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:


وَلَوْ كاَنَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلاَفاً كَثِيْراً


“Kalau kiranya Al Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa`: 82) (Mukhtashar Ash-Shawa’iqil Mursalah, hal. 594)


Dalil-dalil tentang Kebenaran Hanya Satu


Cukup banyak dalil akurat dari Al Qur`an, As Sunnah dan amalan shahabat yang menunjukkan bahwa kebenaran dalam setiap permasalahan yang diperselisihkan hanya satu. Adapun yang selainnya merupakan kesalahan. Di antara dalil-dalil tersebut:


1. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:


وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْماً فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ


“Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain. Karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu Allah wasiatkan pada kalian agar kalian bertakwa.” (Al-An‘am: 153)


Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala -ketika menafsirkan ayat ini- berkata: “Firman Allah Ta’ala:


فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ


“Ikutilah (jalan-Ku) dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang lain.”


(Di sini) sungguh Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan tentang jalan-Nya dengan bentuk kata tunggal karena kebenaran itu hanya satu. Oleh sebab itu, Allah menyebutkan tentang jalan-jalan yang lain dengan bentuk kata jamak (banyak). Karena jalan-jalan yang lain terpisah-pisah dan bercabang-cabang….” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/256)


2. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:


وَدَاوُدَ وَسُلَيْماَنَ إِذْ يَحْكُماَنِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُناَّ لِِحُكْمِهِمْ شاَهِدِيْنَ. فَفَهَّمْناَهاَ سُلَيْماَنَ وَكُلاًّ آتَيْناَ حِكْماً وَعِلْماً وَسَخَّرْناَ دَاوُدَ الْجِباَلَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وُكُناَّ فاَعِلِيْنَ


“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman. Karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu. Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung serta burung-burung. Semuanya bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya.” (Al-Anbiya`: 78-79)


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan -tentang dua ayat ini- sebagai berikut: “Kedua nabi yang mulia ini telah sama-sama memberikan keputusan dalam sebuah kasus yang membutuhkan vonis hukum. Maka Allah Subhanahu wata’ala mengistimewakan salah seorang dari keduanya dengan memahamkan (kepadanya) duduk permasalahan (yang dihadapi). Bersamaan dengan itu Allah memuji masing-masing dari keduanya dengan mendatangkan pengetahuan hukum dan ilmu kepadanya. Demikian pula para ulama yang mujtahid. Siapa yang benar dari mereka mendapatkan dua pahala sedangkan yang salah mendapatkan satu pahala. Masing-masing mereka taat kepada Allah sesuai dengan kemampuannya. Allah tidak akan memberatkannya dengan sesuatu yang dia tidak mampu mengilmuinya…” (Majmu’ Al-Fatawa, 33/41)


3. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:


إِذاَ حَكَمَ الْحاَكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصاَبَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذاَ حَكَمَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ


“Apabila seorang hakim menghukumi lalu berijtihad maka jika benar dia mendapatkan dua pahala dan jika salah dia mendapatkan satu pahala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah z)


Al-Imam Al-Muzani Rahimahullahu Ta’ala menandaskan: “Perlu dipertanyakan kepada orang yang membolehkan perbedaan pendapat dan menyangka bahwa dua orang alim jika berijtihad pada sebuah kejadian –yang satu berpendapat (halal) sementara yang lain berpendapat (haram)– masing-masing dari keduanya meraih kebenaran: Apakah engkau mengatakan ini dengan sebuah sumber (hukum) atau dengan qiyas? Bila dia menjawab: Dengan sebuah sumber (hukum). Dipertegas kepadanya: Bagaimana bisa dari sebuah sumber (hukum) sedangkan Al Qur`an menolak perbedaan pendapat. Bila dia menjawab: Dengan qiyas. Dipertegas kepadanya: Sumber-sumber (hukum) menolak perbedaan pendapat dan bagaimana engkau bisa mengqiyas atas sumber-sumber (hukum) tersebut untuk membolehkan perbedaan pendapat. Ini merupakan perkara yang tidak bisa diterima oleh orang yang berakal terlebih lagi oleh seorang yang berilmu.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, karya Ibnu ‘Abdil Barr, 2/89)


4. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:


إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفَرَّقَتْ أُمَّتِي عَلىَ ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي الناَّرِ إِلاَّ وَاحِدَةً. قَالُوا: وَمَنْ هِيَ، ياَ رَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ الْْيَوْمَ وَأَصْحاَبِي


“Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan akan berpecah umatku menjadi tujuh puluh tiga golongan. Mereka seluruhnya berada dalam api neraka kecuali golongan yang satu. Para shahabat bertanya: “Siapa golongan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “(Dia adalah golongan yang memegang) ajaranku dan (faham) shahabatku pada hari ini.” (HR. At-Tirmidzi dan selainnya dari ‘Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash c)


Dalam sanad hadits ini terdapat Abdurrahman bin Ziyad Al-Ifriqi. Dia seorang yang dha’if. Tetapi hadits ini dikuatkan oleh banyak hadits lain yang semakna. Hadits-hadits tersebut diriwayatkan dari beberapa orang shahabat, antara lain:
1. Abu Hurairah
2. Mu’awiyah bin Abi Sufyan
3. Anas bin Malik
4. ‘Auf bin Malik
5. Ibnu Mas‘ud
6. Abu Umamah
7. ‘Ali bin Abi Thalib
8. Sa’ad bin Abi Waqqash
Semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhai mereka semua.


Al-Imam Syathibi Rahimahullahu Ta’ala memaparkan: “Sabda beliau Shallallahu’alaihi wasallam “Kecuali golongan yang satu”, secara nash memberikan penjelasan bahwa kebenaran hanya satu dan tidak beraneka ragam. Sebab jika seandainya kebenaran menjadi milik berbagai pihak niscaya beliau tidak akan mengatakan “Kecuali golongan yang satu”…”. (Al-I’tisham, 2/755)


5. Al-Imam Al-Muzani Rahimahullahu Ta’ala berkata:


Para shahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah berbeda pendapat. Sebagian mereka menyalahkan yang lainnya. (Sebagian mereka) melihat kepada pendapat-pendapat yang lain lalu mengomentarinya. Jika mereka berpandangan bahwa seluruh pendapat mereka (ketika berselisih) adalah benar, niscaya mereka tidak akan melakukan yang demikian.


‘Umar bin Al-Khaththab Radhiallahu’anhu pernah marah karena perselisihan Ubay bin Ka’b Radhiallahu’anhu dengan Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu mengenai hukum shalat mengenakan sehelai pakaian. Saat itu Ubay berkata: “Sesungguhnya shalat dengan mengenakan sehelai pakaian merupakan perkara yang baik lagi bagus.” Ibnu Mas’ud berkata: “Sungguh yang demikian itu (dibolehkan) bila jumlah pakaiannya sedikit.” Maka ‘Umar keluar dalam keadaan marah dan berkata: “Dua orang shahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam yang dipandang dan diambil pendapatnya telah berselisih. Ubay telah benar dan Ibnu Mas’ud tidak lalai. Akan tetapi tidaklah aku mendengar seorang pun berselisih mengenainya setelah (aku meninggalkan) tempatku ini melainkan aku akan memperlakukannya demikian dan demikian.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 2/83-84)


Tidak Setiap Mujtahid Benar


Dalil-dalil di atas dengan tegas mematahkan kesesatan sebagian muslimin yang berpandangan bahwa setiap mujtahid benar. Sebab pernyataan ini adalah madzhab Mu’tazilah negeri Bashrah. Merekalah sumber dari kebid’ahan ini. Mereka berpendapat demikian karena tidak paham tentang makna-makna dan metode-metode fiqih yang mengantarkan kepada kebenaran serta memisahkan dari kerancuan-kerancuan yang batil. (Al-Bahru Al-Muhith karya Az-Zarkasyi, 6/243)


Tidak ada seorang pun dari para ulama sunnah dan imam-imam Islam yang menyuarakan bahwa setiap mujtahid benar. Adapun penisbahannya kepada Al-Imam Asy-Syafi’i dan Al-Imam Malik merupakan isapan jempol dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (Al-Bahru Al-Muhith, 6/242 dan Shifatush-shalah karya Al-Albani hal.63-64)


Al-Imam Malik Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Tidaklah (ada) kebenaran melainkan hanya satu. (Mungkinkah -ed) dua pendapat yang saling bertentangan keduanya benar? Tidaklah al-haq dan kebenaran melainkan hanya satu.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 2/82, 88, 89)


Hal yang hampir senada diucapkan pula oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu Ta’ala (Majmu’ Al-Fatawa, 33/42), Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullahu Ta’ala (Mukhtashar Ash-Shawa’iqil Mursalah, hal. 594), Ibnu Abdil Barr Rahimahullahu Ta’ala (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 2/88), dan para ulama yang lainnya.


Perselisihan Bukan Argumen untuk Mentolerir Suatu Pendapat


Berargumen dengan perselisihan dan perbedaan pendapat untuk melegitimasi suatu pemikiran (dari tokoh tertentu) atau madzhab sebagai sebuah kebenaran merupakan perkara yang tidak benar. Sikap ini tidak memiliki akurasi hujjah. Sebab Al Qur`an dan As Sunnah tidak mengajarkannya.


Al-Hafidz Abu ‘Umar bin Abdil Barr Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Perselisihan bukan hujjah menurut seluruh ahli fiqih umat ini kecuali bagi orang yang tidak punya mata hati dan pengetahuan. Maka pendapatnya bukan hujjah.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 2/229)


Kewajiban seorang muslim adalah mencari letak kebenaran dalam sebuah perselisihan dan pertikaian. Tidak semua pendapat mengusung kebenaran. Kebenaran hanya berada pada salah satu pihak yang berselisih dan bertikai. Ini adalah pendapat Al-imam Malik, Ahmad dan Asy-Syafi’i rahimahumullah. (Mukhtashar Ash-Shawa’iqil Mursalah, hal. 594)


Pihak yang benar adalah yang pendapatnya berlandaskan Al Qur`an dan As Sunnah beserta pemahaman Salaf. Sebuah kesalahan fatal bila seorang muslim menganggap suatu perkara dibolehkan dengan alasan (di dalam perkara tersebut terdapat) perselisihan di kalangan para ulama apalagi yang selainnya. Ini merupakan kekeliruan terhadap syariat Islam. Namun sangat disayangkan betapa banyak orang yang terjatuh di dalamnya. Mereka bukan dari golongan orang awam saja akan tetapi juga melibatkan orang-orang yang mengaku dirinya berilmu. Sebagian mereka dianggap ulama atau paling tidak bergelar kyai maupun ustadz. Bahkan tak jarang ahlul bid’ah berupaya melanggengkan berbagai kebid’ahannya dengan alasan yang demikian. Wallahul musta’an.


Marilah kita menyimak penuturan ulama berikut ini:


Al-Imam Asy-Syathibi Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Perkara ini telah melampaui kadar yang cukup. Sehingga terjadi pembolehan sebuah perbuatan karena berpegang pada kondisinya yang diperselisihkan di kalangan para ulama. Pembolehan ini bukan bermakna untuk memelihara perselisihan, sebab hal ini memiliki sisi pandang yang lain, akan tetapi tujuannya adalah yang selain itu (yakni tujuannya tidak untuk memelihara perselisihan -red). Terkadang dalam suatu permasalahan muncul fatwa yang melarang. Lalu dipertanyakan: “Kenapa engkau melarang? Padahal permasalahannya diperselisihkan.” Maka perselisihan dijadikan argumen untuk membolehkan, semata-mata karena permasalahannya diperselisihkan. Bukan karena dalil yang menyokong kebenaran madzhab yang membolehkan. Tidak pula karena taqlid kepada orang yang lebih pantas diikuti daripada orang yang mengatakan larangan. Itulah wujud kesalahan terhadap syariat, yaitu menjadikan yang bukan pegangan sebagai pegangan dan yang bukan hujjah sebagai hujjah.” (Tahdzib Al-Muwafaqat, karya Muhammad bin Husain Al-Jizani, hal. 334)


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Siapapun tidak boleh berhujjah dengan pendapat seseorang dalam permasalahan-permasalahan yang diperselisihkan. Hujjah itu hanya berupa nash (Al Qur`an dan As Sunnah), ijma’ dan dalil yang disimpulkan dari itu (sedangkan) pendahuluannya dikokohkan dengan dalil-dalil syar’i, tidak dengan pendapat-pendapat sebagian ulama. Karena pendapat-pendapat ulama perlu diberi hujjah dengan dalil-dalil syar’i, bukan untuk dijadikan sebagai hujjah atas dalil-dalil syar’i.” (Majmu’ Al-Fatawa, 26/202-203)


Setiap Pendapat Menuntut Dalil


Menuntut dalil dari setiap pendapat merupakan kewajaran di kalangan pecinta kebenaran. Tentunya tanpa memandang siapa yang menjadi sasarannya. Sebab nilai kebenaran terletak pada dalil bukan dalam kebesaran nama seseorang. Namun tidak berarti tanpa etika dan adab yang layak dalam melakukannya. Inilah barangkali yang tidak dipahami oleh para pembebek yang terperosok dalam kubangan pengkultusan tokoh. Acapkali mereka memegang sebuah pendapat karena yang mengucapkannya adalah seorang yang punya nama besar tanpa menoleh dalilnya. Terkadang profil yang dimaksud bukan ulama yang faham agama beserta dalil-dalilnya dengan benar.


Tapi keharusan berpijak kepada dalil tak bisa digugurkan walaupun pemilik pendapat adalah seorang ulama dengan kriteria yang hampir mencapai titik sempurna. Orang yang mempelajari sejarah hidup generasi terbaik umat ini akan melihat bahwa mereka tak sungkan-sungkan untuk bertanya tentang dalil sebuah pendapat kepada yang bersangkutan. Berikut beberapa riwayat dalam masalah ini:


1. Dari Abu Ghalib, ia berkata: Kami bertanya (kepada Abu Umamah):


أَبِرَأْيِكَ قُلْتَ: هَؤُلاَءِ كِلاَبُ الناَّرِ، أَوْ شَيْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟


“Apakah dengan pendapatmu engkau mengatakan: Mereka (Khawarij) adalah anjing-anjing neraka, atau sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam?


إِنِّي لَجَرِيْءٌ بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ ثِنْتَيْنِ وَلاَ ثَلاَثٍ


“(Jika demikian) sungguh aku sangat berani. Akan tetapi aku mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tidak hanya sekali, dua dan tiga kali.” Lalu beliau menyebutkan hitungan bilangannya berulang kali. (HR. Ahmad, dengan sanad yang jayyid menurut penilaian Asy-Syaikh Muqbil t, lihat Al-Jami’ush Shahih, 1/199-201)


2. Dari Abu Shalih, ia berkata: Aku mendengar Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu’anhu mengatakan:


الدِّناَرُ بِالدِّناَرِ، وَالدِّرْهَمُ بِالدِّرْهَمِ، مِثْلاً بِمِثْلٍ، فَمَنْ زَادَ – أَوِ ازْدَادَ – فَقَدْ أَرْيَى


“Dinar dengan dinar, dan dirham dengan dirham (menukar/jual-belinya) dengan timbangan yang sama (bobotnya). Barangsiapa yang menambahi atau minta tambahan berarti dia telah berbuat riba.”


Aku (Abu Shalih) berkata kepadanya (Abu Sa’id): “Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas mengatakan yang selain ini.” Abu Sa’id Al-Khudri menjawab: “Aku telah bertemu Ibnu ‘Abbas. Aku bertanya: Apakah yang engkau ucapkan ini adalah sesuatu yang pernah engkau dengar dari Rasulullah, atau engkau mendapatkannya dalam Kitabullah? Beliau (Ibnu ‘Abbas –red) menjawab: Aku tidak mengatakan semua itu. Kalian lebih tahu tentang Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam daripada aku. Akan tetapi Usamah telah memberitakan kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:


لاَ رِباً إِلاَّ فِي النَّسِيْئَةِ


“Tidak ada riba kecuali (riba) an-nasi`ah.” (HR. Al-Bukhari no. 2178 dan Muslim no. 1596)


3. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan di dalam Manaqib Asy-Syafi’i (86-87): Al-Imam Ahmad pernah bertanya kepada Al-Imam As-Syafi’i rahimahumallah: “Apa pendapatmu tentang masalah yang demikian dan demikian?” Lalu Al-Imam Asy-Syafi’i menjawab masalahnya. Al-Imam Ahmad berkata: “Dari mana engkau mengatakan itu? Apakah terdapat padanya sebuah hadits atau ayat Al Qur`an?” Al-Imam Asy-Syafi’i menjawab: “Ya.” Lantas beliau mengutarakan sebuah hadits Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengenai masalah tersebut.” (Zajrul Mutahawin karya Hamd bin Ibrahim hal. 69)


Demikianlah tuntunan dari pendahulu kita yang baik. Namun sangat disayangkan kini banyak kalangan mentolerir suatu pendapat karena semata-mata yang mengucapkannya adalah seorang ulama atau kyai. Mereka tidak bersikap ilmiah dengan mau melihat dalilnya. Terlebih lagi mau berpikir tentang akurasi dalil dan pendalilannya. Inilah realita pahit dan memilukan dalam kehidupan beragama kebanyakan kaum muslimin belakangan ini. Bahkan penyakit ini berkembang pula di tengah para santri kebanyakan pondok pesantren di dalam dan luar negeri. Tak kalah serunya tatkala hal serupa ikut merebak di level para da’i yang sedang bergelut di kancah dakwah kecuali segelintir orang yang dirahmati oleh Allah Tabaroka wata’ala. Wallahul musta’an.


Semoga pembahasan ini mengingatkan kita untuk kembali intropeksi diri dengan satu pertanyaan: Dari golongan manakah kita dalam memegang pendapat? Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala menjadikan kita selalu berada di belakang dalil dalam beragama dan tidak dininabobokan oleh nama besar sosok-sosok tertentu.


Penutup


Seluruh pembahasan di atas berlaku secara umum pada segala permasalahan agama baik ushul (prinsip) maupun furu’ (cabang) tanpa perbedaan. Karena masing-masing bagian memiliki kekokohan hubungan yang sama erat dengan norma-norma syari’at. (Mukhtashar Ash-Shawa’iqil Mursalah, hal. 594 dan Fathul Qadir karya Al-Imam Asy-Syaukani, 1/370)


Adapun perselisihan yang dimaksud dalam pembahasan di atas yaitu perselisihan yang mengandung kontradiksi antara dua pendapat atau lebih dan tidak bisa kompromikan. Yang bisa dikompromikan dengan metode-metode yang dikenal di kalangan para ulama tidak termasuk dalam cakupannya, karena tidak masuk dalam kategori perselisihan dengan makna yang sesungguhnya. Perselisihan ini diistilahkan di kalangan para ulama dengan nama ikhtilaf tadhadh. Di sana terdapat perselisihan yang berangkat dari keragaman dalil. Ini pada hakekatnya tidak dapat dikatakan sebagai perselisihan. Lebih tepat untuk dikatakan sebagai keragaman aturan syariat Islam dalam masalah tersebut. Perselisihan ini diistilahkan di kalangan para ulama dengan nama ikhtilaf tanawwu’.


Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu, beliau berkata:


سَمِعْتُ رَجَلاً قَرَأَ آيَةً سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ خِلاَفَهاَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَانْطَلَقْتُ بِهِ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتُ لَهُ ذَلِكَ، فَعَرَفْتُ فِيْ وَجْهِهِ الْكَرَاهَةَ، وَقاَلَ: كِلاَكُماَ مُحْسِنٌ وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَإِنَّ مَنْ كاَنَ قَبْلَكُم اخْتَلَفُوْا فَهَلَكُوْا


“Aku mendengar seseorang membaca satu ayat, padahal aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membaca berbeda dengan bacaannya. Maka aku memegang tangannya dan membawanya menemui Rasulullah, lalu aku laporkan perkara itu kepada beliau. Aku melihat rasa tidak suka pada wajah beliau dan beliau bersabda: Kalian berdua telah benar dan janganlah berselisih, karena orang-orang sebelum kalian berselisih sehingga mereka binasa.” (HR. Al-Bukhari no. 2410)


Demikianlah yang dapat kami tuliskan di sini. semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Yang benar datangnya dari Allah Ta’ala, sedangkan yang salah datangnya dari kami dan syaithan. Karenanya kami mohon ampun kepada Allah Ta’ala.Wallahu a’lam.


Sumber bacaan:


Al Qur`an
Tafsir Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala
Mukhtashar Ash-Shawa’iqil Mursalah karya Muhammad Al-Mushili
Al-I’tisham karya Asy-Syathibi Rahimahullahu Ta’ala tahqiq Salim Al-Hilali
Shifat Shalat Nabi karya Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullahu Ta’ala
Zajrul Mutahawin karya Hamd bin Ibrahim Al-Utsman Rahimahullahu Ta’ala
Tahdzib Al-Muwafaqat karya Muhammad bin Husain Al-Jizani


oleh : Al-Ustadz Abdul Mu’thi Al-Maidani

Sumber : Majalah As Syariah

http://sunniy.wordpress.com/

Tuesday, November 22, 2011

“Inilah Jalanku!”



قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ


وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ


(Artinya: Katakanlah: “Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada ALLAH dengan keterangan yang nyata. Maha Suci ALLAH dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.”) (Yusuf: 108)




Inilah jalanku…


Ya, satu lagi perintah ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa yang wajib kutunaikan, mengikuti cara Sang Kekasih ALLAH di dalam berda’wah. Jalan yang juga ditempuh oleh orang-orang yang pertama-tama beriman, yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa pilih untuk hidup menyertai kekasih-Nya -Shallallahu alaihi wa sallam-., yakni jalannya para Shahabat -radhiallahu anhum-. Sedangkan siapa saja yang mengkhianati Ar-Rasul, berpaling, dan menempuh selain jalan mereka ini, akan ALLAH abaikan ke mana saja ia mau melangkah -tanpa mereka sadari-:


سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ


(Artinya: “…akan kami tarik berangsur-angsur mereka (-kepada kebinasaan-) dari arah yang tak mereka ketahui.”) (Al Qalam: 44)


sehingga berujung di jahanam sebagai tempat kembalinya.


وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ


نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيراً


(Artinya: “Dan barang siapa yang menentang Ar-Rasul setelah jelas kebenaran baginya ,dan mengikuti selain jalan orang beriman, Kami akan biarkan mereka ke mana saja mereka berpaling, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”) (An-Nisaa’:115)


Inilah jalanku…


Ya, satu-satunya jalan yang dulu pernah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- gambarkan dalam bentuk sebuah garis, seraya membacakan :


وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ


(Artinya:”Dan inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah oleh kalian...”)(Al An’aam: 153)


Ya, satu jalan lurus tak bercabang, apalagi berbilang. Satu jalan yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa pun mengatakan sebagai jalan-Nya. Yang paling sedikit tujuh belas kali dalam sehari aku senantiasa memohon agar ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa menunjukinya kepadaku dan membimbingku kepadanya.


Inilah jalanku….


Ya, ketika aku hendak mengenal rabb-ku, berangkatlah aku dengan menempuh jalan ini. Dan mustahil aku mengenal rabb-ku seandainya yang kutempuh adalah jalan selain yang telah ditempuh oleh generasi-generasi terbaik dari umat ini, yakni yang hidup di zaman beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-, di zaman sesudahnya, dan sesudahnya. Juga mustahil aku mengenal rabb-ku, seandainya yang kutempuh hanya dengan mengenal diri, sebagaiman kata orang -dan ini bukan perkataan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- : “Man arrafa nafsahu faqod arrafa rabbahu.”


Maka ALLAH yang kukenal sama dengan yang mereka kenal. Yakni ALLAH yang memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia yang Ia tetapkan sendiri bagi-Nya, yang tidak sama dan bisa disamakan dengan nama atau sifat makhluq-Nya. ALLAH yang berada di ketinggian, di langit. Yang menciptakan, memiliki, dan mengatur semesta alam serta menetapkan taqdir bagi seluruh makhluq lima puluh ribu tahun sebelum Ia menciptakan itu semua. Yang orang-orang beriman kelak berkesempatan melihat Nya di surga sebagai kenikmatan yang paling sempurna. Ya, seperti inilah antara lain ALLAH yang aku dan mereka kenal.


Inilah jalanku….


Ya, ketika aku hendak mengenal nabiku, berangkatlah aku dengan menempuh jalan ini. Dan mustahil aku mengenal nabiku seandainya yang kutempuh adalah jalan selain yang telah ditempuh oleh generasi-generasi terbaik dari umat ini . Juga mustahil aku mengenal nabiku seandainya yang kutempuh adalah mengambil dan menerima semua riwayat tentangnya tanpa memilah dan memilih -mana riwayat yang benar mana yang tidak benar-.


Maka Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang kukenal sama dengan yang mereka kenal. Yakni manusia pilihan yang berasal dari nasab yang jelas dan mulia. Dialah Nabi yang memiliki sifat amanah, yang para sahabatnya bersaksi bahwa ia telah menyampaikan seluruh risalah tanpa terlupa atau sengaja ia sembunyikan, yang juga telah menjelaskan berbagai perkara yang dapat mengantarkan kita ke sorga dan menyelamatkan kita dari neraka. Yakni Nabi yang para sahabatnya tidak pernah mengkultuskannya sebagaimana orang nashara terhadap nabi mereka, juga tidak pernah para sahabat melecehkannya sebagaimana orang yahudi terhadap nabi mereka, namun menerimanya sebagai teladan, sebagaimana ALLAH menjadikannya. Dialah Nabi yang kelak menggiring manusia di padang Mahsyar, yang diutus ALLAH dengan agama yang mengalahkan agama-agama lain, yang tak ada lagi nabi setelahnya. Ya, seperti itulah antara lain Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- yang aku dan mereka kenal.


Inilah jalanku….


Ya, ketika aku hendak mengenal agamaku, juga kutempuh jalan ini. Dan mustahil aku mengenal agamaku seandainya yang kutempuh adalah selain jalan ini. Juga mustahil aku mengenal agamaku, seandainya aku menimba bukan dari sumbernya yang murni, apalagi dari -yang telah ALLAH dijelaskan sifat bencinya terhadap agama ini- yahudi dan nashara.


Maka agama yang kukenal sama dengan yang mereka kenal. Yakni agama yang telah sempurna, yang ALLAH unggulkan di atas agama-agama lain, yang menjadi satu-satunya agama yang diterima di sisi-Nya. Agama yang maknanya: pasrah kapada ALLAH atas dasar tauhid, patuh dengan mengerjakan ketaatan, serta berlepas diri dari syirik dan orang musyrik Yakni agama yang meliputi Islam, Iman, dan Ihsan. Yang tiangnya adalah sholat dan puncaknya adalah jihad di jalan ALLAH. Agama yang merupakan rahmat bagi semesta alam, yang tidak menghakimi isi hati manusia, namun menuntut pemeluknya untuk bangga mengamalkannya. Ya, seperti itulah antara lain Islam yang aku dan mereka kenal.


Inilah jalanku….


Ya, ketika aku hendak mengamalkan apa yang telah kukenal tadi, berangkatlah aku dengan menempuh jalan ini, Dan mustahil aku dapat mengamalkannya kalau tidak dibangun di atas pengenalanku yang benar akan ALLAH, Islam, dan Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-.


Maka apa yang aku amalkan adalah juga yang mereka amalkan. Amalan yang terikat contoh dan dibangun di atas dalil yang kokoh, bukan yang lemah, apalagi yang tak berdalil. Amalan yang dibangun di atas kepastian, bukan di atas keraguan. Amalan yang benar-salah dan baik-buruknya bukan ditentukan aqal, adat, dan hawa nafsu, tetapi wahyu. Amalan yang dibangun dengan mengharapkan ridho ALLAH, bukan selain-Nya. Sehingga amalanku sama dengan apa yang mereka amalkan.


Inilah jalanku…


Ya, ketika aku hendak menda’wahkan apa yang telah kuilmui dan amalkan tadi, berangkatlah aku dengan menempuh jalan ini. Dan mustahil aku dapat menda’wahkannya kalau tidak diawali dengan mengilmui dan mengamalkannya terlebih dahulu, sebagaimana yang dituntut oleh jalan ini.


Maka apa yang aku da’wahkan adalah juga apa yang mereka da’wahkan. Yakni, da’wah yang haq, menyeru kepada tauhid, tidak kepada selainnya. Da’wah yang haq, mengajak kepada Sunnah, tidak kepada selainnya. Menyeru kepada persatuan di atas agama ALLAH, bukan di atas kelompok atau golongan. Yakni da’wah yang dibangun di atas ilmu, yang diikuti hanya oleh pengikut-pengikut Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-. Yang dengannya segala kerancuan dijelaskan, Da’wah yang membuat orang beriman semakin yakin, yang bimbang mendapatkan kepastian, yang mencari mendapat jawaban, dan yang memusuhi terbungkam mulutnya. Ya, bukan da’wah yang membuat orang beriman terpuruk di dalam kelemahan, yang bimbang semakin kebingungan, yang mencari semakin tersesat, dan yang memusuhi semakin gembira. Demikianlah, sehingga da’wahku sama dengan apa yang mereka da’wahkan.


Inilah jalanku…


Ya, ketika aku harus bersabar dan menasihati orang lain untuk bersabar, berangkatlah aku dengan menempuh jalan ini. Dan mustahil aku dapat bersabar dan mengajak orang lain juga bersabar kalau tidak menempuh jalan ini.


Maka apa yang aku nasihatkan kepada orang adalah juga yang mereka nasihatkan. Yakni nasihat agar bersikap tulus kepada ALLAH, tulus kepada AL Qur’an, tulus kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, tulus kepada para pemimpin dari kalangan kaum muslimin, dan tulus kepada sesama muslim secara keseluruhan. Juga nasihat agar bersabar di dalam keta’atan, di dalam menghadapi yang diharamkan ALLAH, dan bersabar menghadapi cobaan dan rintangan kehidupan. Nasihat yang dengannya si kuat menjadi sayang kepada yang lemah dan si lemah menjadi hormat kepada yang kuat, bukan sebaliknya.


Inilah jalanku…


Ya, satu jalan lurus tak bercabang, apalagi berbilang. Satu jalan yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa pun mengatakan sebagai jalan-Nya.:


وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ


ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


(Artinya: “Dan bahwasanya inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah jalan ini, dan jangan kalian ikuti jalan-jalan yang banyak, yang akan menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diwasiatkan ALLAH kepada kalian, agar kalian bertaqwa.“) (Al An’aam:153)


Yang mana selainnya adalah jalan-jalan pelaku bid’ah, yang penyeru-penyerunya adalah syaithan.


عن عبد اللّه بن مسعود رضي اللّه عنه قال:


خط رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم خطاً بيده ثم قال:”هذا سبيل اللّه مستقيماً”،


وخط عن يمينه وشماله ثم قال:”هذه السبل ليس منها سبيل إلا عليه شيطان يدعو إليه”،


ثم قرأ:{وأن هذا صراطي مستقيماً فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله}


(رواه أحمد والحاكم والنسائي، وقال الحاكم: صحيح ولم يخرجاه)


(Dari Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu anhu-, berkata: Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah menggambarkan bagi kami sebuah garis dengan tangannya, kemudian berkata,”Inilah jalan-ALLAH yang lurus.” Dan kemudian beliau membuatkan garis-garis lain di sebelah kiri dan kanan garis tadi, kemudian berkata, “Inilah As-Subul (jalan-jalan yang banyak). Tidak satupun dari jalan-jalan itu kecuali ada syaithan yang menyeru kepadanya.” Kemudian beliau membaca -(Dan bahwasanya inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah jalan ini, dan jangan kalian ikuti jalan-jalan yang banyak, yang akan menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya.)-


Inilah jalanku…


Jalan yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa wajibkan aku berjalan di atasnya. Jalan yang telah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dan generasi terbaik umat ini menapakinya. Jalan yang menjanjikan, sampai aku bertemu dengan perintisnya kelak di surga, amin.


oleh : Abu Khaulah Zainal Abidin

sumber : http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/5jendela-risalah/inilah-jalanku/

Sunday, November 20, 2011

KARENA TIDAK BISA MENJAWABNYA, MAKA AKU MENYATAKAN DIRI MASUK ISLAM


Kisah ini adalah kisah yang menakjubkan seputar hidayah kepada Allah -Subhanahu wa ta'ala-. Kalau sekiranya saya tidak mengalami dan mendengarnya langsung, niscaya tidak ada seorangpun yang saya percayai. Kisah ini bermula ketika saya menjadi Direktur Rabithah Al ‘Alam Al Islamy di Johannesburg Afrika Selatan.


Peristiwa ini terjadi pada tahun 1996 ketika musim dingin. Keadaan hari itu diliputi mendung dan angin yang kencang. Ketika saya menunggu kedatangan seseorang yang sudah ada janji sebelumnya, maka istriku menyiapkan hidangan makan siang untuk menghormatinya. Janji tersebut adalah dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Orang tersebut adalah seorang penginjil; penyebar agama Nashrani, ia adalah seorang pendeta bernama Sily. Pertemuan dengan Sily ini dimediatori oleh Sekretaris Kantor Robithoh Abdul Kholiq, dimana ia memberitahukan kepada saya bahwa ada seorang pendeta yang ingin datang ke kantor Robithoh untuk urusan penting. Dan pada hari yang telah ditentukan itulah ia hadir dengan ditemani seseorang yang bernama Sulaiman, ia mantan petinju yang telah menjadi anggota dewan setelah Allah memberinya petunjuk kepada Islam. Kemudian saya menemui mereka semua di kantor saya dan berbahagia dengan ini semua.


Sily ini orang yang berperawakan pendek, kulitnya hitam dan senantiasa tersenyum. Dia duduk di depan saya dan mulai berbicara dengan dipenuhi kelembutan. Saya bertanya kepadanya: “Wahai saudaraku Sily! Bisakah anda menceritakan kisah anda ketika memeluk Islam?” Tersenyumlah Sily dan berujar: “Dengan senang hati!” Saya berkata: “Dengarlah wahai saudaraku sekalian!”.


Sily memulai ceritanya:


“Dulu saya adalah seorang pendeta aktif, saya mengabdikan diri saya ke gereja dengan sungguh-sungguh dan senang hati. Tidak cukup hanya itu saja, bahkan saya termasuk pembesar gerakan kristenisasi di Afrika Selatan. Karena keaktifan saya itulah akhirnya saya dipilih oleh Vatikan untuk mengemban amanat kristenisasi dengan sokongan dana dari sana. Maka saya senantiasa mengambil dana yang dikirim dari sana untuk tujuan ini. Saya juga menjadikan semua cara yang dapat mengantarkan kepada tujuan. Seringkali saya melakukan kunjungan ke kampus-kampus, sekolah-sekolah, rumah sakit- rumah sakit, desa-desa dan bahkan hutan-hutan. Saya bagikan uang itu kepada mereka dalam berbagai bentuk bantuan, pemberian, hadiah dan sedekah, agar sampai ke tujuan yang saya inginkan dan manusia masuk ke agama Kristen. Adapaun sokongan dari gereja sangat melimpah, sehingga jadilah saya orang kaya. Saya memiliki rumah, kendaraan, gaji tetap dan kedudukan yang terhormat diantara para pendeta.


Pada suatu hari saya pergi untuk membeli beberapa hadiah di pusat perbelanjaan di negara saya. Di pasar saya menemui seseorang yang memakai peci, ia seorang pedagang yang menjual hadiah-hadiah (souvenir), sedangkan saya menggunakan pakaian kebesaran pendeta yang panjang dengan mutiara putih yang membedakan dengan orang yang lain. Orang tersebut mulai menawarkan hadiah-hadiah terbaik. Dan saya tahu kalau ia adalah seorang muslim. Kami di Afrika Selatan menyebut agama Islam sebagai agama India, kami tidak mengatakan agama Islam -karena kebanyakan pemeluknya berasal dari India-. Sesudah saya membeli apa yang saya inginkan, sebelum memperangkap orang yang sederhana tersebut, sebagaimana biasanya kami selalu menipu orang-orang fakir di kalangan kaum muslimin di Afrika Selatan, dengan agama Nashrani dan memberinya bantuan.


Tiba-tiba pedagang tersebut bertanya: “Anda pendeta bukan?”, saya menjawab: “Benar”. Kemudian ia bertanya siapa tuhan saya, saya menjawab: “al-Masih adalah tuhan saya”. Ia bertanya lagi: “Bisakah anda menunjukkan kepada saya satu ayat saja dalam injil yang menyatakan dengan lisan al-Masih sendiri bahwa ia berkata: "Saya Allah atau saya adalah anak Allah, maka sembahlah saya!" Mendengar pertanyaan itu seolah-olah saya disambar petir, saya tidak bisa menjawabnya. Saya berusaha untuk mengingat-ingat apa yang pernah saya baca dari kitab Injil dan kitab-kitab agama Nashrani, tetapi saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Tidak ada satupun disana ayat yang bersumber dari lisan al-Masih yang mengatakan bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Maka tangan saya lemas dan saya dipenuhi kesedihan yang mendalam hingga dada saya sesak. Bagaimana pertanyaan semacam ini tidak pernah terpikirkan oleh saya?


Kemudian saya meninggalkan orang tersebut dan saya menutupi wajah saya. Saya tidak mengetahui keadaan diri saya sendiri kecuali saya terus berjalan dan tidak menoleh kearah manapun. Kemudian saya berjanji untuk meneliti masalah ini walaupun hal ini memberatkan saya. Akan tetapi saya lemah dan kalah. Kemudian saya pergi ke dewan gereja dan saya meminta semua anggotanya dikumpulkan. Ketika sudah berkumpul, saya memberitahukan kepada mereka semua apa yang telah saya alami. Akhirnya mereka semua menyerang saya dan berkata: “Orang India itu telah menipumu. Ia ingin menyesatkanmu dengan agama India mereka”. Kemudian saya menimpali: “Kalau demikian, jawablah pertanyaan saya!” Akhirnya mereka saling bertanya dan tidak ada satupun yang menjawab.


Ketika hari Ahad tiba, waktu dimana saya harus menyampaikan khutbah di gereja, saya berusaha berbicara di depan jamaah namun tidak kuasa. Orang-orang tertegun melihat saya terdiam dan tidak berbicara. Kemudian saya keluar dan meminta kepada teman saya yang lain untuk menggantikan tugas saya. Saya memberitahukan jika saya sakit, padahal tidak demikian, justru saya tersiksa dan bingung terhadap diri sendiri. Akhirnya saya pulang ke rumah dalam keadaan bingung, lalu saya memasuki tempat yang kecil di rumahku, kemudian duduk dan mengambil nafas kuat-kuat. Lalu saya mengangkat pandanganku keatas, kemudian berdo'a. Tapi saya bingung akan berdo'a kepada siapa? Kemudian saya arahkan doa saya kepada yang saya yakini, Allah sebagai sang Pencipta. Dan berujar dalam do'a saya itu:


“Rabbi...Penciptaku! Bagiku semua pintuku telah tertutup selain daripada pintu-Mu, janganlah Engkau mengharamkanku untuk mengetahui kebenaran, di manakah kebenaran, di manakah yang sebenarnya? Wahai Penciptaku! Jangalah membiarkanku dalam kebingungan, tunjukkanlah kepadaku yang benar!”


Kemudian saya mengantuk dan akhirnya tertidur. Ketika tidur itulah saya bermimpi berada di suatu aula yang besar, tidak ada seorangpun di dalamnya. Tetapi di tengahnya saya melihat ada punggung seseorang, namun tidak jelas karena adanya cahaya disekitarnya. Aku mengira itu adalah Allah yang mengajakku berbicara untuk menunjukkan kepadaku kebenaran. Tetapi yang aku yakini ia adalah seseorang yang bercahaya. Kemudian orang tersebut menunjuk kepadaku dan menyeru: “Hai Ibrahim!” Aku melihat sekitarku untuk melihat siapa yang dimaksud dengan Ibrahim, namun aku tidak mendapati seseorang bersamaku di aula tersebut. Orang itu berkata kepadaku: “Anda Ibrahim, nama anda Ibrahim. Lihat di sebelah kanan anda!” Kemudian saya melihat kanan saya, disana ada seseorang yang berpakaian putih. Orang itu melanjutkan ucapannya: “Ikutilah ia untuk mengetahui kebenaran!” Kemudian saya terbangun dan saya merasa bahagia sekali.


Akhirnya saya berketetapan hati untuk melakukan perjalanan, perjalanan mencari kebenaran, sebagaimana yang telah ditunjukkan kepadaku dalam mimpiku. Dan saya yakin bahwa ini semua merupakan bimbingan dari Allah. Maka saya mengambil upah dari pekerjaan saya dan kemudian melakukan perjalanan. Saya senantiasa mencari dan bertanya seseorang yang memakai pakaian putih hingga pencarian dan perjalanan saya berlangsung lama. Hingga tibalah pencarian saya di kota Johannesburg. Kemudian saya mendatangi kantor penerimaan Lajnah Muslim Afrika, dan saya bertanya kepada karyawan resepsionis: “Bukankah anda memiliki tempat ibadah yang dekat dari sini?” Kemudian ia menunjukkan tempat tersebut dan saya menuju ke sana. Ketika saya dalam masa penantian, tiba-tiba di pintu masjid berdiri seorang laki-laki berpakaian putih yang membuat hati saya senang, karena ia sama dengan yang saya lihat dalam mimpi saya. Saya arahkan pandangan saya dan saya senang melihatnya. Kemudian orang tersebut memanggil saya sebelum saya mengucapkan sepatah katapun: “Marhaban Wahai Ibrahim!” Saya kaget dengan apa yang saya dengar. Orang itu mengetahui nama saya sebelum saya mengenalkan diri saya sendiri. Orang tersebut melanjutkan ucapakannya: “Saya telah melihat anda di dalam mimpi saya bahwa anda ingin mengetahui kebenaran. Dan yang benar adalah agama yang telah diridhoi Allah untuk hamba-Nya adalah Islam.” Kemudian saya memeluk laki-laki itu dan ia pun menyambutnya serta mengucapkan selamat atas nikmat Allah kepada saya untuk mengetahui kebenaran.


Ketika datang waktu shalat Zhuhur, orang tersebut mempersilakan saya untuk duduk di bagian belakang masjid. Kemudian ia shalat bersama dengan orang-orang yang berada di sana. Mereka semua ruku’ dan sujud kepada Allah -Subhanahu wa ta'ala-. Kemudian saya berkata kepada diri saya sendiri: “Demi Allah, ini adalah agama yang benar! saya telah membaca dalam kitab-kitab bahwa para nabi dan para rasul menundukkan dahi mereka ke bumi untuk sujud kepada Allah”.


Selesai shalat, hati saya menjadi tenang atas apa yang telah saya lihat dan dengar. Saya pun berkata lagi: “Demi Allah, Allah telah menunjukkah kepadaku agama yang benar!” Orang itupun memanggilku untuk memberitahukan keislamanku, akhirnya aku mengucapkan dua kalimat syahadat, dan aku menangis dengan tangisan kebahagian atas nikmat Allah berupa hidayah-Nya.”


Dan kami berkata dengan lisan pedagang tersebut menantang semua orang Nashrani agar mendatangkan satu ayat dalam injil, yang dikatakan oleh al-Masih sendiri bahwa dia mengatakan: “Aku adalah Allah atau anak Allah, maka sembahlah aku!” niscaya mustahil ia bisa menjawabnya. (AZ)


Oleh Hasyim Sarhan

sumber :
*Majalah Qiblati Edisi 10 Volume 1

.