Mari Cintai Ilmu dan Berbagi | Blog Tentang Kesehatan | Mari Cintai Ilmu dan Berbagi ~ Blog Tentang Berbagi Ilmu | http://ummulabib.blogspot.com/

RESEP KUE KERING KLASIK, PRAKTIS & EKONOMIS

Hari raya seperti Lebaran  identik dengan kue kering. Tidak ada salahnya, sesekali Anda membuat kue kering sendiri di rumah. Selain menghemat biaya, menyajikan kue kering bikinan sendiri tentu lebih membanggakan.

Jangan bingung dengan resepnya, Resep nastar klasik ini sudah dicoba berulang kali dan hasilnya maksimal. Kue harum, lezat dan teksturnya renyah. Resep ini juga cocok diterapkan untuk berwirausaha boga.Selamat Berkreasi.



NASTAR KLASIK
Bahan:250 g tepung terigu rendah protein/soft wheat/cap kunci
30 g tepung maizena
200 g mentega/margarin
20 g susu bubuk
60 g gula halus
2 butir kuning telur
1/4 sdt garam halus
Cengkih untuk hiasan

Selai Nanas:400 gr nanas matang, parut
200 g gula pasir
3 buah cengkih
5 cm kayu manis/ 1/4 sdt bubuk kayu manis
1/4 sdt garam halus
Olesan, aduk rata:3 butir kuning telur
2 sdm susu tawar cair/ 1 sdm susu bubuk, larutkan dengan 2 sdm air

Cara Membuat:1. Campur tepung terigu, tepung maizena dan susu bubuk, aduk rata/ayak.
2. Tambahkan gula halus, kuning telur, mentega/margarin dan garam ke dalam campuran tepung. Aduk dengan garpu atau mixer kecepatan rendah (gunakan satu gigi)hingga terbentuk adonan yang berbutir-butir.
3. Padatkan adonan dengan tangan atau sendok kayu sehingga terbentuk adonan yang bisa dipulung/dibentuk.
4. Ambil sejumput adonan, bentuk menjadi bulatan, pipihkan. Isi tengahnya dengan 1/2 sendok teh selai nanas. Bulatkan kembali.
5. Atur kue yang telah dibentuk di atas loyang beroles margarin. Olesi permukaannya dengan bahan olesan. Tancapkan satu buah cengkih di atasnya.
6. Panggang kue dalam oven bertemperatur 150 derajat celcius selama 20 menit atau hingga kue matang dan berwarna kuning kecokelatan. Angkat, dinginkan. Simpan dalam stoples kedap udara.
7. Selai Nanas: Campur parutan nanas, gula pasir, kayu manis, cengkih dan garam, aduk rata. Panaskan sambil terus diaduk hingga terbentuk adonan selai yang kental. Angkat, dinginkan.
Untuk 550 g

Tip:
Jangan mengaduk adonan dengan tangan terlalu lama karena panas tangan akan mencairkan lemak dalam adonan. Akibatnya kue kering akan keras/tidak rapuh. Aduk seperlunya, asal adonan sudah bisa dibentuk. Untuk variasi rasa, selai nanas bisa diganti potongan keju atau selai sesuai selera. 

sumer :http://budiboga.blogspot.com/
Terima kasih telah membaca artikel tentang RESEP KUE KERING KLASIK, PRAKTIS & EKONOMIS di blog Mari cintai ilmu dan berbagi jika anda ingin menyebar luaskan artikel ini di mohon untuk mencantumkan link sebagai Sumbernya, dan bila artikel ini bermanfaat silakan bookmark halaman ini diwebbroswer anda, dengan cara menekan Ctrl + D pada tombol keyboard anda.

Artikel terbaru :

Mari cintai ilmu dan berbagi | Blog Berbagi Ilmu | Mari cintai ilmu dan berbagi ~ Blog Berbagi Ilmu | http://ummulabib.blogspot.com/

Artikel Terpopuler

Larangan Fanatik Buta

Al-Imam asy-Syafi’i (Madzhab Syafi'i) mengatakan :

كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت؛ فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي

“Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits yang sahih dari Rasulullah dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup ataupun sudah mati.”


Al-Imam Malik (Madzhab Maliki) mengatakan :

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“Saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka perhatikanlah pendapat saya, jika sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka ambillah. Apabila tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.”


Al-Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) mengatakan :

لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه
وفى رواية: «حرام على مَن لم يعرف دليلي أن يفتى بكلامي «فإننا بشر، نقول القول اليوم ونرجع عنه غدًا

“Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.” Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).”


Al-Imam Ahmad Bin Hambal( Madzab Hambali mengatakan) :
لا تقلدني، ولا تقليد مالكًا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا

“Janganlah kalian taklid kepada saya dan jangan taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, ataupun (Sufyan) ats-Tsauri. Tapi ambillah (dalil) dari mana mereka mengambilnya.”

.